Rabu, 09 September 2009

Artikel Masjid Kebon Jeruk



Masjid Kebon Jeruk
Tidak terlalu sulit untuk mencari Masjid Kebon Jeruk yang menurut sejarah tercatat sebagai salah satu masjid tua di Jakarta. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman telah mencanangkan sebagai cagar budaya dan keberadaannya terus dilestarikan. Masjid yang keaslian arsitekturnya masih terjaga ini, di bangun oleh muslim Cina tahun 1786. Waktu itu Chan Tsin Wa atau Tschoa adalah pemimpin muslim Cina di Batavia yang datang bersama istrinya Fatima Hwu, dan memprakarsai pembangunan masjid yang sekarang berada di jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.

Masjid ini selalu di padati oleh jamaah dari berbagai daerah, bahkan muslim dari berbagai negara pun mudah kita jumpai di sini. Mereka rata-rata berjenggot, mengenakan baju koko, surban atau peci putih, dan celana mereka tidak ada yang menutupi mata kaki. Banyak juga yang memakai baju panjang sampai ke lutut, tasbih yang selalu berputar di tangan dan aroma minyak cendana dan kasturi, begitu kuat menyebar keseluruh ruangan.

Dari cara mereka berpakaian nampak sekali bahwa mereka meneladani cara-cara (sunah) Nabi, belum lagi ikatan persaudaraan mereka yang begitu kuat menandakan mereka adalah umat yang taat kepada ajaran Rasulnya. Padahal, kemungkinan besar diantara mereka belum ada yang saling kenal.

Jemaah di Masjid Kebun Jeruk ini di kenal dengan sebutan jamaah tabligh, mereka selalu rutin dan khusuk mendengarkan ceramah setiap habis shalat maghrib. Jemaah terdiri dari berbagai profesi, seperti pimpinan pondok pesantren, bupati, pedagang kaki lima, pengusaha muda, mantan preman, mahasiswa hingga artis pun ada yang menjadi jamaah di sini. Gito rollies misalnya, semasa hidup sering terlihat mengikuti kegiatan di masjid ini.

“Di sini tidak ada jemaah yang diistimewakan, semua sama, berorientasi kepada kehidupan akherat dan harus dari hati,” kata Sutina jamaah dari pemanukan yang kemudian mengganti nama menjadi Ayatullah. Ini sama seperti zaman awal-awal masjid berdiri, konon orang-orang Cina yang masuk Islam mengganti namanya dengan nama-nama Islam. Hinggga pihak Belanda yang berkuasa pada waktu itu berang, dan sempat membantai muslim Cina di masjid ini. Namun, dengan keajaiban masjid ini tidak mengalami kerusakan parah dan masih tetap berdiri sampai sekarang.

Jamaah di Masjid Kebon Jeruk ini selalu bertambah dari tahun-ketahun “Di sini gudangnya ilmu, jangan heran kalau semakin banyak yang datang ke sini. Kadang-kadang sampai tidak muat, tapi masjid ini ngga boleh dibangun lagi karena masjid tua, paling cuma perbaikan aja,” kata Ayatullah, pulang sebulan sekali untuk menengok istri dan ketiga anaknya di kampung.

Gaya bangunan Masjid Kebon Jeruk ini mempunyai kemiripan dengan masjid-masjid yang ada di Jawa. Namun sentuhan gaya arsitektur china terlihat dari benda-benda peninggalan, seperti kalender antik dan sebuah makam di halaman masjid dengan batu nisan bergaya china bertulisan Hsienpi Men Tsu Mow yang artinya “inilah makam China dari keluarga Chai”. Masjid ini menjadi suatu bukti terjadinya asimilasi kebudayaan yang tetap terjaga.

Alamat : Markaz Tabligh Seluruh Indonesia & Dunia 
http://adressmarkazjemaahtabligh.blogspot.com/


KUMPULAN ARTIKEL MASJID JAMI KEBON JERUK KOTA JAKARTA INDONESIA

Masjid ini berlokasi di jalan Hayam Wuruk No. 85, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat. Masjid yang dibangun tahun 1786 M oleh Chau Tsien Hwu ialah dari sebuah surau yang hampir roboh yang tidak ada catatan pendiriannya. Masjid ini kemudian dinamai Masjid Jami Kebon jeruk dengan luas 10 x 10 m2. Ruang ibadah utama berukurn 11,5 x 6 x 2,5 meter. Dihalaman ebelah timur masjid terdapat nisan berbentuk naga dengan tulisan huruf cina dan pertanggalan Arab 1792 M. Tahun ini merupakan tahun kematian Fatimah. Makam inilah yang memeberikan kesan keunikan tersendiri. Masjid ini telah mengalami renovasi beberapakali seperti tahun 1950 dmana dibuat perluasan pada keempat sisi masjid, tahun 1974 dilakukan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak. Renovasi juga dilakukan pada tahun 1983 s/d 1986 dan terahir tahun 1998.





Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum dan Sejarah melalui SK Gubernur No Cb11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 menetapkan Masjid Jami , Kebon Jeruk di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat, ditetapkan sebagai monumen sejarah. Masjid Jami didirikan tahun 1718 di atas lahan seluas sekitar 1,5 hektare, dengan gaya arsitektur Belanda dan Cina. Selama bulan suci Ramadan masjid tua ini banyak dikunjungi jemaah dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara seperti Pakistan, India, Arab Saudi dan Malaysia.

MASJID TUA – Masjid Jami Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat yang dibangun tahun 1718 masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik.

TIDAK TERBACA – Papan nama Masjid Jami Kebok Jeruk yang terbaut dari kayu jati nyaris tidak terbaca.

KUBAH – Ornamen kubah masjid Jami masih asli, pemugaran yang dilakukan menjaga keasliannya.

MASIH ASLI – Beberapa tiang penyangga dan kayu pembatas di dalam masjid Jami masih asli.

MAKAM – Makam Hj Nur Hajizah berada di dalam lingkungan masjid Jami.

ARTIKEL KUMPULAN MASJID KEBON JERUK KOTA



Kalau bicara mengenai kemasyhuran dan keunikan, masjid ini mungkin salah satunya. Masjid ini bukan saja terkenal di Jakarta saja, tapi masyarakat dari berbagai daerah cukup banyak yang mengenalnya, bahkan tidak sedikit jamaahnya berasal dari penjuru dunia.
Masjid yang dimaksud adalah Masjid Kebon Jeruk. Letak masjid ini berada di Jalan Hayam Wuruk No. 85 Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.
Masjid Kebon Jeruk merupakan masjid pertama di kawasan perdagangan dan keramaian bisnis ibu kota, yakni Glodok.
Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Tionghoa Muslim, Chau Tsien Hwu di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat.

Setelah sampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tionghoa mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.
“Kata orang-orang dulu, awalnya daerah ini bagus, banyak ditumbuhi pohon-pohon yang rindang. Nggak kayak sekarang, bising dan banyak polusi,” ceritanya kepada SH.

Mesjid Jami’Kebon Jeruk terletak di pinggir Jalan Hayam Wuruk. Menurut sejarahnya didirikan pada tahun 1718. Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid kecil, yang lebih tepat disebut surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui.

Pada tahun 1718, datanglah seorang Cina bernama Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu ke daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Rupanya mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.

Oleh karena itu mereka tidak berniat lagi untuk kembali ke negri leluhurnya, mereka bermukim di sini. Lalu Mendirikan mesjid di lokasi bekas mesjid mungil tersebut tadi. Itulah Mesjid Kebun Jeruk yang sekarang ini.

Menaranya sudah lama runtuh karena memang telah sangat tua. Mimbarnya yang antik terbuat dari kayu kembang, kini masih tersimpan di Museum Fatahillah.

Fatima hwu wafat tahun 1792, dimakamkan di halaman belakang mesjid. Pada nisan bergaya Cina, terdapat pahatan enam aksara cina yang berbunyi :”Hsienpi Chai Men Tsu Mow”, yang berarti “Inilah makam wanita dari keluarga Chai”.

Sedangkan Chan Tsin Hwu, menurut sejarah wafat di Cirebon dan dimakamkan di gunung Sembung.
Tidak berbeda dengan masjid-masjid tua yang lain di nusantara. Di halaman masjid ini juga terdapat sebuah makam. Seorang yang dimakamkan di tempat ini adalah Fatimah Hwu, istri dari Chiau Tsien Hwu. Namun yang unik dari makam ini adalah bentuk nisannya. Nisan ini berbentuk naga dengan tulisan Cina dan pertanggalan Arab.
Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. “Seluruh jamaah kami berkumpulnya di sini, lalu kami jadikan masjid ini sebagai markas kegiatan kita untuk wilayah Indonesia,” jelas Abdul Salam.
Ia menjelaskan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan banyak negara. “Kami sama sekali tidak berniat politis. Kami hanya menjalankan kegiatan ini semata-mata mencari ridho Allah,” paparnya.

Makan bersama
Hal yang menarik, selama bulan Ramadhan, banyak jamaah dari berbagai daerah dan negara melakukan seluruh amal ibadahnya di Masjid Kebon Jeruk. Bukan itu saja, SH menjumpai para jamaah melakukan seluruh aktifitas hidupnya, seperti tidur, makan, dan mandi di masjid ini.
Salah satunya Syaefuddin (38), jamaah asal Pekan Baru, Riau, mengaku bahwa ia merasakan ibadahnya menjadi lebih khusu’ kalau beribadah di Masjid Kebon Jeruk.
“Bagi saya masjid ini (Masjid Kebon Jeruk-red) seperti Masjidil Haram yang ada di Mekkah. Banyak amalan yang bisa saya lakukan disini,” ceritanya.
Sedangkan pendapat yang berbeda diutarakan oleh jamaah yang lain. Menurut jamaah asal Brunei, Abdur Razak (31), alasannya melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia karena diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, surat Attaubah, ayat 11.
“Dalam Al-Qur’an, Allah menyuruh kita untuk melakukan perjalanan di jalan-Nya. Saya senang bisa bertemu dengan saudara-saudara saya, dari berbagai tempat, di sini,” tuturnya.
Ia juga rela mengeluarkan biaya perjalanannya dari kantung pribadinya. “Kami ikhlas mengeluarkan sendiri, karena kami yakin, nantinya segala keikhlasan kita ini akan dibalas berlipat-lipat oleh Allah,” tambahnya.
Namun kegiatan yang paling unik adalah saat berbuka puasa. SH sempat pula mengikuti acara berbuka puasa yang diadakan oleh pihak masjid. Pada waktu berbuka puasa, ada sekitar puluhan kelompok secara bersama-sama menyantap hidangannya dalam satu tampah.
Menurut Abdul Salam, ritual tersebut dijalankan karena disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. “Soalnya, Rasulullah sering menyantap hidangan berbuka puasa bersama-sama dengan para sahabatnya dalam satu wadah. Dengan cara ini, kita juga merasakan kebersamaan dan Ukhuwah Islamiyah,” jelasnya.
Selain ritual tersebut, ia juga menjabarkan ada dua amalan yang harus dikerjakan oleh para jamaahnya, yakni amalan Infiradhi dan Ijtima’i. Pada amalan infiradhi, setiap orang menjalankan ibadahnya secara sendiri-sendiri, seperti Shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Isra’, membaca Al-Qur’an setiap harinya minimal satu Juz, dan melakukan dzikir sepanjang hari.
Sedangkan amalan Ijtima’i, adalah amalan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti menjalankan shalat fardhu, Shalat Tarawih, berbuka puasa dan menghadiri berbagai majelis-majelis. Ia juga menambahkan ada dua majelis yang wajib dihadiri setiap jamaah, yakni Majelis Khurghazi dan Majelis Bayan.
Majelis Khurgazi adalah suatu majelis yang berupa kesaksian seseorang yang baru pulang dari perjalanannya di jalan Allah dan mengajak para jamaah untuk ikut melakukan perjalanan ini. “Biasanya majelis ini diadakan setelah Shalat Ashar sampai jam setengah lima sore,” ungkapnya.
“Setelah Shalat Shubuh dan Tarawih, Majelis Bayan digelar. Dan setiap jamaahnya wajib mendengarkan ceramah-ceramah para ustad. Isi ceramahnya mengenai pentingnya amal shaleh bagi kita,” paparnya.
Banyaknya aktifitas ibadah di Masjid Kebon Jeruk yang dilakukan oleh para jamaahnya, kita harapkan menjadi oase di tengah-tengah keringnya dan pongahnya kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. (aya – Sinar Harapan)


Masjid ini adalah salah satu mesjid tua di kota Jakarta dan termasuk cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah RI.
Di masjid ini juga menjadi pusat kegiatan ISLAM , terutama dijadikan basis atau markas pusat USAHA DAKWAH(yang markas dunia di Nizamuddin, New Delhi INDIA) , di seluruh Indonesia.
Setiap jamaah2 DAKWAH yang datang dan pergi dari/ke seluruh dunia dan dari/ke seluruh pelosok Nusantara, dipusatkan di masjid ini.
Metode dakwah yang digunakan adalah dengan cara mengajak seluruh umat ISLAM untuk meluangkan waktu,harta,diri untuk terjun langsung menjumpai manusia mengajak kpd CAHAYA HIDAYAH, dengan memberi kabar gembira dengan hikmah dan kelembutan hati, bukan ancaman , dengan menyampaikan kelebihan dan nilai suatu amal serta menghindarkan dari perbedaan mahzab,politik dan lebih menfocuskan dalam perbaikan TAUHID (hakikat IMAN, bukan sekedar ILMU dan TEORI).
Bagi ikhwan2 yang ingin mengetahui lebih jauh silahkan kunjungi masjid ini setiap malam Jum'at selepas 'Asar sampai Isya', InsyaALLAH kita niat dan catat nama
Dibangun pada tahun 1786 (Abad ke 18) oleh Tuan Tschoa (Kapten Tamien Dosol Seeng) merupakan masjid pertama yang didirikan bagi masyarakat peranakan China Muslim di Glodok, dibangun diatas tanah milik Kapten China yang telah masuk agama Islam. Di belakang masjid terdapat makam Islam, pada nisannya bertuliskan huruf China yang berbunyi “ Fatimah Hwu “, tulisan lain yaitu “ H. Sienpi Chai Men Tsu Mow “ serta angka – angka Arab yang menyebutkan tahun 1792, dan ornament-ornamen seperti kepala naga. Yang disimpulkan bahwa ini adalah makam seorang wanita dari keluarga Chai, yaitu Fatimah Hwu, yang juga merupakan istri dari Kapten Tamien Dosol Seeng.
Sejarah penyebaran Islam di berbagai tempat di muka bumi ini tak bisa dilepaskan dari sejarah orang yang berhijrah dari satu tempat ke tempat yang lain. Masjid Jami Kebon Jeruk, yang terletak di jalan Hayam Wuruk 83, Tamansari, Jakarta Barat juga didirikan oleh seorang muhajirin dari Tionghoa bernama Chau Tsien Hwu pada tahun 1786.

Sebelumnya, di tanah yang sama telah berdiri surau kecil. Pada saat Chau Tsien Hwu datang, ia menemukan surau tersebut dalam keadaan rusak dan tak terpelihara. Bersama teman-temannya sesama muhajirin, ia berinisiatif untuk mendirikan masjid yang hingga kini bangunan luarnya masih berdiri kokoh dan bentuknya asli seperti pada saat didirikan.

Masjid Kebon Jeruk saat ini merupakan markaz (pusat kegiatan) usaha Tabligh di Indonesia. Semua hal yang berkaitan dengan permasalahan, kendala, rencana kegiatan, pengiriman jamaah dan lain-lainya yang berkaitan dengan usaha Tabligh di Indonesia digodog dalam musyawarah yang setiap hari dilakukan di masjid ini. Markaz Tabligh semacam Masjid Jami Kebon Jeruk saat ini terdapat hampir di semua negara di dunia.

Masjid ini setiap harinya selalu dipenuhi dengan jamaah-jamaah transit, yang datang dari berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tempat-tempat yang telah diputuskan dalam musyawarah.

Apa yang dilakukan di masjid ini adalah ingin mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya di Masjid Nabawi dulu. Bukan pada kemegahan bangunannya, atau keindahan arsitekturnya, tetapi pada amalan-amalan agama yaitu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, ta’lim dan taallum, dzikir dan ibadah serta hidmat (pelayanan).

Seakan tak mau kalah dengan kesibukan kesibukan di kawasan jalan hayam Wuruk dan Gadjah Mada, aktivitas di masjid ini juga berlangsung selama 24 jam setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan dan 365 hari dalam setahun. Tidak ada kata libur atau waktu luang di dalam aktifitas keagamaan di masjid ini, hari-hari di dalamnya full dengan berbagai kegiatan ; ta’lim, muzakarah, bayan, dzikir, shalat, baca Alquran, musyawarah, khidmat dan lain sebagainya.

Menengok Sejarah Masjid Tua Kebun Jeruk

Sebagian orang mungkin tidak mengetahui di kawasan Kebun Jeruk, Glodok, Jakarta Pusat, terdapat sebuah masjid tua yang didirikan oleh orang-orang dari keturunan Cina pada masa penjajahan Belanda. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Kebun Jeruk.
Masjid yang terletak di jalan Hayam Wuruk nomor 83 Jakarta Pusat ini menurut cerita dari salah satu pengurus masjid, Nur Iman (70), didirikan pada tahun 1786 oleh para peranakan Cina yang tinggal di daerah Glodok. Ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh mereka.
"Masjid ini dulu didiriin pada 1786 sama peranakan Cina yang tinggal di Glodok," katanya saat ditemui Kompas.com, Senin (7/9).
Sejarah pembangunan masjid itu sendiri, menurutnya, terbagi menjadi beberapa versi. Versi pertama adalah, pembangunan masjid dilakukan karena pada saat itu para peranakan Cina yang tinggal di kawasan Glodok tidak memiliki masjid sendiri.
Untuk menunaikan ibadahnya ketika itu, para peranakan Cina tersebut sering menggunakan masjid yang dibangun oleh orang pribumi. Namun, karena kehadiran mereka di masjid pribumi tersebut kerap mendapatkan ejekan dari warga sekitar, para peranakan Cina tersebut akhirnya berinisiatif membangun masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami Kebun Jeruk itu.
"Saat itu di daerah Glodok peranakan (Cina) tidak mempunyai tempat beribadah sendiri dan mereka sering diejek karena menggunakan masjid orang pribumi. Oleh karena itu untuk menghindari ejekan tersebut dibangunlah Masjid ini di atas tanah seorang kapten Cina yang telah masuk Islam," jelasnya.
Versi kedua dari sejarah pembangunan masjid yang saat ini telah berusia kurang lebih 223 tahun itu adalah, masjid tersebut dibangun oleh seorang panglima perang Cina yang beragama Islam yang ketika itu tengah singgah di Kebun Jeruk dari perjalanannya. Saat itu sang panglima dan pasukannya yang beragama Islam hendak menunaikan shalat, akhirnya, sang panglima memerintahkan kepada para prajuritnya untuk mendirikan masjid Kebun Jeruk tersebut."Nama panglimanya saya lupa. Banyak versi deh pokoknya," ucapnya.
Masjid Telah Mengalami Perbaikan dan Perluasan
Pemberian nama Masjid Jami Kebun Jeruk terhadap masjid itu sendiri, menurutnya, didasari pada letak masjid yang berada di pinggir jalan Kebun Jeruk, Jakarta Pusat sedangkan mengenai kondisi masjid, menurutnya, telah mengalami perluasan.
"Kalau luas masjid yang asli cuma 7x7 meter. Tapikan sekarang setelah mengalami perluasan kira-kira luasnya kurang lebih 3000 meter," katanya.
Meski telah mengalami perluasan dan perbaikan, kondisi arsitektur asli masjid, menurutnya, tetap dipertahankan. Salah satu contohnya adalah tetap dipertahankannya warna hijau sebagai warna dinding dari masjid tua tersebut. Hal itu, menurutnya, sebagaimana diinstruksikan oleh pihak pemerintah daerah DKI Jakarta, yang telah mengambil alih perawatan masjid tersebut.
Dua Makam Tionghoa
Ciri khas arsitektur Tionghoa memang sangat nampak dari masjid tersebut. Salah satunya dapat dilihat dari kubah asli masjid yang yang sangat memperlihatkan arsitektur Cina, yakni bentuk-bentuk lengkung ke dalam yang lazim dijumpai pada atap-atap bangunan Cina umumnya.
Tak hanya itu, di bagian pojok komplek masjid juga terdapat dua makam tionghoa, menurut, Nur Iman, penghuni makam tersebut masih memiliki tali kerabat dengan para pendiri masjid. Makam itu sendiri saat ini dipagari oleh tembok, sedangkan untuk akses masuk tersedia sebuah pintu besi.
Pada batu nisan makam terdapat tulisan Cina, yang menyebutkan nama orang yang dikubur yaitu, Fatimah Hwu, selain itu di batu nisan tersebut juga tertulis angka dalam tulisan Arab yang menyebutkan tahun 1792, angka tersebut, menurut Nur Iman, kemungkinan merupakan tahun meninggal Fatimah Hwu.
Sementara nama penghuni makam lainnya tidak dapat diketahui. Pasalnya, batu nisan makam tidak bernama. "Kira-kira tiga tahun kemarin ada warga keturunan (Cina) yang datang menziarahi kuburan itu. Katanya sih masih ada tali keluarga sama yang di kubur (di dalam kubur). Tapi sampai sekarang mereka nggak pernah datang-datang lagi," ungkapnya.
Kondisi masjid sendiri, menurut Nur Iman, tidak pernah sepi dari jamaah. Setiap harinya ada saja jamaah yang mengunjungi masjid. Para jamaah tersebut, menurutnya, berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.
Di bulan Ramadhan ini, para pengurus masjid menyelenggarakan acara buka puasa dan sahur secara gratis. Karenanya, jumlah jamaah masjid setiap harinya di bulan Ramadhan ini, menurutnya, bisa mencapai 300 orang. "Bahkan Jumat dua minggu yang lalu (jumlah jamaahnya) sampai 3000 orang," ujarnya.

Note : Ass Wrb. Jika artikel ini bermanfaat bagi anda,  mohon di Klik iklannya sebagai apresiasi anda untuk kemajuan blog ini, terimakasih