Rabu, 09 September 2009

Menengok Sejarah Masjid Tua Kebun Jeruk

Sebagian orang mungkin tidak mengetahui di kawasan Kebun Jeruk, Glodok, Jakarta Pusat, terdapat sebuah masjid tua yang didirikan oleh orang-orang dari keturunan Cina pada masa penjajahan Belanda. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Kebun Jeruk.
Masjid yang terletak di jalan Hayam Wuruk nomor 83 Jakarta Pusat ini menurut cerita dari salah satu pengurus masjid, Nur Iman (70), didirikan pada tahun 1786 oleh para peranakan Cina yang tinggal di daerah Glodok. Ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh mereka.
"Masjid ini dulu didiriin pada 1786 sama peranakan Cina yang tinggal di Glodok," katanya saat ditemui Kompas.com, Senin (7/9).
Sejarah pembangunan masjid itu sendiri, menurutnya, terbagi menjadi beberapa versi. Versi pertama adalah, pembangunan masjid dilakukan karena pada saat itu para peranakan Cina yang tinggal di kawasan Glodok tidak memiliki masjid sendiri.
Untuk menunaikan ibadahnya ketika itu, para peranakan Cina tersebut sering menggunakan masjid yang dibangun oleh orang pribumi. Namun, karena kehadiran mereka di masjid pribumi tersebut kerap mendapatkan ejekan dari warga sekitar, para peranakan Cina tersebut akhirnya berinisiatif membangun masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami Kebun Jeruk itu.
"Saat itu di daerah Glodok peranakan (Cina) tidak mempunyai tempat beribadah sendiri dan mereka sering diejek karena menggunakan masjid orang pribumi. Oleh karena itu untuk menghindari ejekan tersebut dibangunlah Masjid ini di atas tanah seorang kapten Cina yang telah masuk Islam," jelasnya.
Versi kedua dari sejarah pembangunan masjid yang saat ini telah berusia kurang lebih 223 tahun itu adalah, masjid tersebut dibangun oleh seorang panglima perang Cina yang beragama Islam yang ketika itu tengah singgah di Kebun Jeruk dari perjalanannya. Saat itu sang panglima dan pasukannya yang beragama Islam hendak menunaikan shalat, akhirnya, sang panglima memerintahkan kepada para prajuritnya untuk mendirikan masjid Kebun Jeruk tersebut."Nama panglimanya saya lupa. Banyak versi deh pokoknya," ucapnya.
Masjid Telah Mengalami Perbaikan dan Perluasan
Pemberian nama Masjid Jami Kebun Jeruk terhadap masjid itu sendiri, menurutnya, didasari pada letak masjid yang berada di pinggir jalan Kebun Jeruk, Jakarta Pusat sedangkan mengenai kondisi masjid, menurutnya, telah mengalami perluasan.
"Kalau luas masjid yang asli cuma 7x7 meter. Tapikan sekarang setelah mengalami perluasan kira-kira luasnya kurang lebih 3000 meter," katanya.
Meski telah mengalami perluasan dan perbaikan, kondisi arsitektur asli masjid, menurutnya, tetap dipertahankan. Salah satu contohnya adalah tetap dipertahankannya warna hijau sebagai warna dinding dari masjid tua tersebut. Hal itu, menurutnya, sebagaimana diinstruksikan oleh pihak pemerintah daerah DKI Jakarta, yang telah mengambil alih perawatan masjid tersebut.
Dua Makam Tionghoa
Ciri khas arsitektur Tionghoa memang sangat nampak dari masjid tersebut. Salah satunya dapat dilihat dari kubah asli masjid yang yang sangat memperlihatkan arsitektur Cina, yakni bentuk-bentuk lengkung ke dalam yang lazim dijumpai pada atap-atap bangunan Cina umumnya.
Tak hanya itu, di bagian pojok komplek masjid juga terdapat dua makam tionghoa, menurut, Nur Iman, penghuni makam tersebut masih memiliki tali kerabat dengan para pendiri masjid. Makam itu sendiri saat ini dipagari oleh tembok, sedangkan untuk akses masuk tersedia sebuah pintu besi.
Pada batu nisan makam terdapat tulisan Cina, yang menyebutkan nama orang yang dikubur yaitu, Fatimah Hwu, selain itu di batu nisan tersebut juga tertulis angka dalam tulisan Arab yang menyebutkan tahun 1792, angka tersebut, menurut Nur Iman, kemungkinan merupakan tahun meninggal Fatimah Hwu.
Sementara nama penghuni makam lainnya tidak dapat diketahui. Pasalnya, batu nisan makam tidak bernama. "Kira-kira tiga tahun kemarin ada warga keturunan (Cina) yang datang menziarahi kuburan itu. Katanya sih masih ada tali keluarga sama yang di kubur (di dalam kubur). Tapi sampai sekarang mereka nggak pernah datang-datang lagi," ungkapnya.
Kondisi masjid sendiri, menurut Nur Iman, tidak pernah sepi dari jamaah. Setiap harinya ada saja jamaah yang mengunjungi masjid. Para jamaah tersebut, menurutnya, berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri.
Di bulan Ramadhan ini, para pengurus masjid menyelenggarakan acara buka puasa dan sahur secara gratis. Karenanya, jumlah jamaah masjid setiap harinya di bulan Ramadhan ini, menurutnya, bisa mencapai 300 orang. "Bahkan Jumat dua minggu yang lalu (jumlah jamaahnya) sampai 3000 orang," ujarnya.

Note : Ass Wrb. Jika artikel ini bermanfaat bagi anda,  mohon di Klik iklannya sebagai apresiasi anda untuk kemajuan blog ini, terimakasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar